Minggu, 05 Juni 2011

FISIOLOGI SISTEM PANCA INDERA

PENDAHULUAN
Organ sensori tersebar luas  dalam epitel, jaringan kulit otot dan tendon.
Informasi mengenai lingkungan  interna dan eksterna  tiba di SSP melalui reseptor sensorik
Reseptor sebagai alat transduksi / tranduser yang akan mengubah berbagai bentuk energi
Reseptor  sensorik  mungkin merupakan bagian sel khusus/neuron yang dapat menimbulkan sebuah potensial aksi.
Bentuk energi yang di ubah reseptor : mekanin, suhu,  elektromagnetik, dan energi kimia (bau, rasa)
Reseptor pada masing-masing organ sensorik bersifat  spesifik
MACAM-MACAM SENSORI DASAR PANCA INDRA
KLASIFIKASI ORGAN INDRA
Reseptor sensork bersifat khas untuk berespon pada  satu bentuk energi tertentu, à jenis resptor  berbeda
Tradisional : Penciuman, Penglihatan, Pendengaran, Pengecapan dan perasaan kulit
Berdasarkan reseptornya :
Teleseptor : Penerimaan jarak jauh
Eksoresptor : Berhubungan dengan lingkungan luar
Interoseptor : Berhubungan dengan lingkungan dalam
Propripseptor : Memberi informasi mengenai sikap tubuh
Nosiseptor : Reseptor nyeri

Fisiologi penglihatan
Pertimbangan anatomik :
lapisan reseptor
sistem lensa : Untuk memusatkan cahaya pada reseptor
sistem syaraf : Untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke otak
Jaringan penyusun organ : sklera,  kornea,  koroid, lapisan pembuluh darah, retina, lensa kristalina,  zonula zinii,   iris, corpus vitreus/humor vitreus, trabekule, Schlemm


MEKANISME PEMBENTUKAN BAYANGAN
Mata mengubah  energi dalam spektrum cahaya yang terlihat menjadi potensial aksi dalam nervus optikus
Bayangan dari benda sekitar, akan difokuskan pada retina.
Berkas cahaya yang mengenai retina  menimbulkan potensial pada sel batang  dan kerucut
Impuls  yang dibentuk  dalam retina  dihantarkan ke korteks serebri
Timbul kesan penglihatan

RETINA
Retina terbentang menyusun 10 lapisan yang mengandung sel batang dan kerucut (reseptor cahaya).
Sel kerucut dan batang bersinaps dalam sel bipoler
Sel bipoler bersinaps dalam sel ganglion
Akson sel ganglion berkumpul dan meninggalkan bolamata sebagai  nervus optikus.


LINTASAN SYARAF
Sel-sel ganglion berkumpul dalam nervus optikus berakhir dalam corpus geniculatum lateral (talamus)
Serabut dari masing-masing hemiretina mengalami decussatio pada Chiasma optikum
Serabut syaraf yang berasal dari retina kiri dan kanan bersinaps pada  Tractus  geniculacalcarinus
Corpus genicultum menghantarkan impuls ke korteks serebri, terdiri dari 6 lapisan :
-  Lapisan 1,4, dan 6  menerima impuls dari kontra lateral
-   Lapisan 2,3 dan 5 menerima impuls dari ipsi lateral.

PRINSIP OPTIKA
Berkas cahaya dibelokan atau dibiaskan  apabila melintas  dari satu medium masuk  kedalam  medium yang berbeda  kepadatannya, kecuali jika mengenainya tegak lurus.
Sinar sejajar yang menganai lensa bikonveks akan dibiaskan  ke satu titik (Fokus utama) dibelakang lensa
Untuk maksud praktis matematis di kalibarasi jarak 6 meter sebagai jarak ideal benda ke retina dan dianggap sejajar.
Sinar yang datang   kurang dari 6 meter  à divergent oleh karena itu memusat pada fokus yang lebih kebelakang
Lensa bikonkaf  menyebabkan divergensi  berkas cahaya
Makin besar kecembungan lensa,  makin besar kekuatan pembiasannya.
Satuan daya bias (D)  dioptri
Dioptri merupakan kebalikan  dari jarak fokus utama (f) dalam meter
Misal : sebuah lensa dengan fokus utama 0,25 meter.
Maka daya bias (D) = 1 / f
= 1 / 0,25
= 4 dioptri
Prinsip optika

FISIOLOGI PENDENGARAN
n   Pertimbangan anatomik
n    Telinga mengandung reseptor untuk 2 jenis sensorik : pendengaran dan keseimbangan.
n Pendengaran :  telinga luar, telinga tengah dan kochlea.
n Keseimbangan : canalis semisirkuler, utrikulus dan sacculus.
n    Telinga luar : menyalurkan suara  ke dalam  meatus akustikus ekternus à meatus canalis  ekternus   membrana tymphani.
n    Telinga tengah : Maleus, inkus, stapes
n    Telinga dalam : labirin, cairan perilimfe, membran, endolimfe, cochlea dan organ korti.

n   LINTASAN SARAF
n   Nuclei kochlearis

n   Colliculus inferior

n   Pusat reflek pendengaran

n   Corpus geniculatum medi

n   Talamus

n   Korteks pendengaran

n   PENGHANTARAN SUARA
n    Telinga mengubah  gelombang suara menjadi potensail aksi dalam kochlearis.

n    Gelombang diubah oleh  gendang telinga dan tulang pendengaran menjadi gerakan tulang stapes

n    Gerakan stapes menghasilkan  menimbulkan gelombang pada cairan telingan dalam

n    Gelombang diterima organ korti, sehingga timbul potensial aksi  pada serabut-serabut syaraf
n    FUNGSI FISIOLOGIS MEMBRANA TIMPANI DAN TULANG PENDENGARAN
n    Penghantaran tulang telinga tengah
n    Gelombang suara drai permukaan luar à gerakan membrana timpani (resonator)
n    Gerakan membrani timpani  diteruslkan pada malleus  Incus  Stapes
n    Menggerakan skala vestibuli cochlea yang berisi cairan endolimfe
n    Selanjutnya dihantarkan ke kochlea.
n    Penghantaran  udara.
n    Penghantaran Tulang telinga.



n   FISIOLOGI PENGHIDU DAN PENGECAPAN
n   Pertimbangan anatomis
n    Digolongkan sebagai perasaan visceral karena erat kaitannya dengan fungsi pencernaan.
n    Reseptor penciuman dan pengecapan termasuk kedalam Kemoreseptor
n    Kemoreseptor dirangsang oleh molekul-molekul dalam larutan dalam cairan hidung dan mulut.
n    Reseptor penciuman = teleseptor, tidak ada akses ke talamus,  tidak memiliki are proyeksi pada neokorteks
n    Reseptor pengecapan :  naik melalui pangkal otak à ke talamus  dan berproyeksi pada gyrus post sentralis .

n   FISIOLOGI PENGHIDU
n    Reseptor penciuman  hanya memberi respon  terhadap zat yang bersentuhan dnegan epitel penciuman  dan larut dengan lapisan mukus.
n    Rangsang bau à Potensial reseptor, Ada 3 teori
n    Molekul berbau  menekan aktifitas sistem enzim epitel à perubahan dan reaksi kimia
n    Molekul berbau mengubah  permukaaan sel-sel reseptor yang menybabkan perubahan kandungan listriknya.
n    Molekul  berbau mengubah permeabilitas membran sel  terhadap Natrium
n    Rangsangan akan diteruskan oleh Bulbus olfaktorius  menuju korteks penciuman.

n    PENCIUMAN
RESEPTOR DAN LINTASAN

n   Reseptor penciuman  terletak pada bagian  mukosa hidung
n   Sel-sel penyangga mengekresi lapisan  mukus  secara teruis menerus untuk melapisi epitel .
n   Terdapat sekitar  10-12 juta reseptor dalam mukosa hidung
n   Tiap sel reseptor penciuman adalah  satu neuron
n   Mukosa penciuman merupakan tempat ujung neuron penciuman

n   Neuron penciuman = olfactory rods = yang menjulur ke permukaan mukus
n   Akson neuron reseptor menembus  lamina cribrosa dari os. Ethmoidale dan masuk ke dalam bulbus olfektorius
n   Bulbus olfaktory bersinaps membentuk  Glomerulo Olfactory à Stria olfactory media   potensail aksi pada amigdala  diperspsikan

Diskrimisi penciuman
n   Manusia dapat membedakan 2000-4000 bau yang berbeda.
n   Penyebab belum diketahui secara pasti
n   Bau tertentu terbukti menimbulkan  peningkatan lokal metabolisme.
n    PENGECAPAN
LINTASAN DAN RESEPTOR

n   Organ sensorik = putikmkecap
n   Tiap putik kecap  terdiri dari  sel-sel penyangga  dan 5-18 sel rambut à reseptor pengecap.
n   Tipa putik kecap dipersarafi 50 serabut saraf
n   Pada manusia putik kecap terdapat pada : epiglotis,  palatum dan pharink dan dalam dinding papiula  fungiformis dan papila  vallatae (lidah)
n   LINTASAN SARAF
PUTIK KECAP

NERVUS FASIALIS
VERVUS GLASSOFARINGEUS
NERVUS  VAGUS

MEDULA OBLONGATA
(TRAKTUS SOLITARIUS)

LEMNIKUS MEDIALIS

TELAMUS (BERSAMA-SAMA DENGAN RABA, NYERI, DAN SUHU)

DAERAH PROYEKSI PENGECAPAN DI KORTEKS
n    CITA RASA DASAR. AMBANG RASA
DAN INTENSITAS DISKRIMINASI

n    Pada manusia ada 4 cita rasa dasar : manis, asin, pahit dan asam
n    Pahit dirasakan pada lidah bagian belakang
n    Asam sepanjang pinggir
n    Manis pada ujung
n    Asin pada dorsal depan
n    Ke-4 rasa tersebut juga dapat dirasakan pada  palatum, pharink dan epiglotis.
n    Beberapa penelitian menunjukan putik kecap hanya berespon pada rasa tertentu.
n    PERASAAAN KULIT
RABA, TEKAN,  DAN SUHU

n    Organ senserisnya secara spesifik adalah kulit
n    Terdapat 4 perasaan kulit : raba, tekan, suhu, nyeri
n    Mengandung  serabut-serabut saraf sensoris, yang ujungnya berperan sebagai serabut peka rangsang : syaraf telanjang tak bermielin, pelebaran ujung saraf terminal (markel dan ujung ruffini), ujung yang terselubung (paccini, meisner dan krause)



n    lintasan



n    RABA DAN TEKAN
n    Paling banyak pada kulit jari dan bibir.  Relatif sedikit pada kulit tubuh
n    Informasi raba dihantarkan melalui 2 lintasan : sistem lemnikus dan anterolateral.
n    Mengandung  serabut-serabut saraf sensoris, yang ujungnya berperan sebagai serabut peka rangsang.


n    SUHU
n    Organ perasa suhu adalah ujung-ujung syaraf telanjang yang berespon terhadap suhu.
n    Serabut bermielin halus à traktus spinothalamikus lateral  talamus  gyrus post centralis.

n    NYERI
n    Organ senserisnya secara spesifik adalah kulit
n    Mengandung  serabut-serabut saraf sensoris, yang ujungnya berperan sebagai serabut peka rangsang.


n   PENGHANTARAN NYERI
n     Serabut syaraf delta A : Diameter 2,2 mm, kecepatan 6-70 m/detik, menghantarkan stimulus menusuk/tajam. Berakhir pada  ventro basalis otak, yang selanjutnya dihantarkan ke  korteks
n     Serabut syaraf delta C : diameter 0,4-1,2 mm, kecepatan 0,5-2 m/detik, menghantarkan nyeri tumpul.    Berakhir pada arean retikularis  dan lamina nukleus thalamikus, kemudian dihantarkan ke korteks

n    PERJALANAN NYERI KE SSP
Stimulasi nyeri

Medula spinalis

Neopsinotalamikus                           Paleospinotalamikus

Nyeri cepat                         nyeri Lambat

Glutamat                Ion P
Serabut tipe A                      Serabut tipe C

Lamina Marginalis            Lamina II & Kornu Dorsalis

Otak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar